Sejarah Berdirinya Masjid Baitul Mu'min


Masjid Baitul Mu'min
Sejak Perumahan Vilamas Indah Blok.A dibangun pada awal tahun 2004, telah dirasakan adanya keinginan untuk mempunyai masjid di lingkungan perumahan Vilamas Indah Blok.A
Keinginan untuk menghadirkan sebuah masjid dalam lingkungan Perumahan Vilamas Indah tersebut secara lebih kongkrit tertuang pada waktu disusunnya Panitia Pembangunan Masjid yang diketuai oleh Bpk.Agus Yatman pada tahun 2006, yang kemudian disepakati berada disisi sebelah barat diatas tanah seluas +/- 1010 M3 dekat pintu masuk Perumahan Vilamas Indah Blok.A , hal ini dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat di sekitar bisa masuk ke dalam masjid.

Dengan kehadiran masjid di lingkungan Perumahan Vilamas Indah Blok.A diharapkan dapat meningkatkan kegiatan keagamaan, khususnya agama Islam. Lebih jauh lagi diharapkan masjid tidak hanya dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan ibadah ritual saja, tetapi juga sebagai pusat pembinaan mental, budaya dan kesejahteraan umat. Sehingga diharapkan dapat membentuk kepribadian yang muhlis dan istiqomah.

Dengan latar belakang tersebut di atas, maka pada pertengahan tahun 2007, Panitia Pembangunan Masjid beserta seluruh tokoh masyarakat Perumahan Vilamas Indah menyepakati sebuah nama masjid dengan nama “Baitul Mu'min”. Pemberian nama masjid tersebut kemudian secara resmi dikukuhkan sebagai nama masjid di Perumahan Vilamas Indah Blok.A melalui Rekomendasi yang dikeluarkan oleh Walikota Bekasi, Bpk.Mocktar Mohamad pada tanggal       Tahun 2008.

Rancangan Fisik Masjid Baitul Mu'min

Rancangan Fisik Masjid Baitul Mu'min
Masjid adalah tempat bersujud dan lambang syiar Islam, oleh karenanya karakter, skala, bentuk bangunan dan ornamen estetika harus mencerminkan suatu tempat bersujud dan Islami. Masjid ini dirancang 2 lantai. Masjid dapat dicapai dari semua arah kecuali dari arah kiblat (mihrab) sebagai cerminan keterbukaan dari rumah Allah yang dapat dipergunakan seluruh umat Islam.

Secara keseluruhan bangunan ini menampilkan bentuk masjid yang sudah dikenal secara umum dengan kubah dan minaret. Hal ini melambangkan kedekatan dan kewajaran serta menjauhkan dari perasaan akan lingkungan yang kurang dikenal atau bentuk yang tidak umum.
Secara keseluruhan masjid menampilkan garis-garis vertikal yang mencerminkan hubungan antara manusia sebagai hamba dengan Allah Sang Pencipta, dan garis-garis horizontal yang mencerminkan hubungan muamalah antara sesama manusia yang sederajad. Bahkan jendela terbentuk persegi dengan jendela dari bahan kaca patri bermotif ornamen geometris yang merupakan ornamen hias yang sesuai dengan ajaran Islam.

Bagian dalam masjid Baitul Mu'min

Balok penguhubung yang mengikat keempat kolom utama yang menopang atap kubah, dihiasi dengan ragam hias yang Islami dengan kaligrafi ayat 35 surat an-Nur, dan kaki kubah dikelilingi dengan Asmaul Husna. Atap berbentuk kubah mewakili bola langit sebagai representasi dari alam semesta ciptaan Allah dengan jendela sebagai titik-titik cahaya, “Nur” yang menerangi ruang sholat dengan pencahayaan alami dari luar, sebagi menifestasi bahwa manusia sangatlah kecil dibanding alam semesta ciptaan- Nya dan dalam sujudnya selalu akan mencari cahaya, “Nur” hidayah dari Allah. Ornamen estetis dalam amsjid, didominasi oleh pola-pola geometris yang merupakan ornamen yang bernafaskan Islam. Selain itu juga diambil ragam hias yang digali dari perbendaharaan ragam hias tradisional yang semuanya dilaksanakan oleh seniman lokal.

Lingkungan Fisik Masjid Baitul Mu'min

Masjid Baitul Mu'min berada di dalam komplek perumahan Vilamas Indah Blok.A  Masjid ini direncanakan terdiri dari dua lantai.
Lantai Dasar; sebagai lantai utama masjid untuk ruang sholat, seluas 600 m2 yang dapat menampung 300 jamaah.
Selain itu masih ada ruang terbuka serba guna masjid seluas 400 m2 yang dapat dipergunakan untuk perluasan tempat sholat, terutama pada hari Jum’at yang dapat menampung 100 jamaah.
Sementara ini dipergunakan untuk tempat parkir motor siswa-siswi SMPN 38.
Demikian sekilas sejarah berdirinya Masjid Jami Baitul Mu'min semoga dengan hadirnya Blog Masjid Jami Baitul Mu'min ini dapat menjadi salah satu sarana mempererat silaturahmi sesama warga Vilamas ind ah Blok.A dan syiar warga masyarakat muslim sekitar..Amin.

Keutamaan membangun Masjid

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا
Dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Keutamaan membangun masjid ikhlas karena Allah
imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ عُثْمَانِ بْنَ عَفَّانَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ
Dari Utsman bin Affan -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membangun masjid ikhlas karena Allah maka Allah akan membangunkan baginya yang serupa dengannya di surga.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Tidak boleh membangun masjid di tanah pekuburan

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha- bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai sebuah gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, di dalam gereja itu terdapat gambar-gambar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu apabila di antara mereka terdapat orang yang soleh yang meninggal maka mereka pun membangun di atas kuburnya sebuah masjid/tempat ibadah dan mereka memasang di dalamnya gambar-gambar untuk mengenang orang-orang soleh tersebut. Mereka itu adalah makhluk yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Tidak boleh menyerupai Yahudi dan Nasrani

Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي لَمْ يَقُمْ مِنْهُ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Dari ‘Aisyah -radhiyallahu’anha- dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau sedang menderita sakit yang membuatnya tidak bisa bangun -menjelang wafat, pen-, “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani; mereka menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Larangan menjadikan kubur orang soleh sebagai tempat ibadah

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ جُنْدَبِ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِخَمْسٍ وَهُوَ يَقُولُ إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
Dari Jundab -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal, “Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah bahwa aku tidak akan menjadikan seorang pun dari kalian sebagai kekasihku, karena sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Kalau seandainya ku diijinkan untuk mengangkat seorang kekasih dari kalangan umatku, maka niscaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian biasa menjadikan kubur para nabi dan orang-orang soleh di antara mereka sebagai tempat ibadah, sesungguhnya aku melarang kalian melakukan hal semacam itu.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Menjaga kebersihan masjid dari kotoran

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا
Dari Anas bin Malik -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Berludah di masjid adalah kesalahan dan peleburnya adalah dengan menguburkannya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Boleh membawa anak kecil ke masjid

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنْ السُّجُودِ أَعَادَهَا
Dari Abu Qatadah al-Anshari -radhiyallahu’anhu- dia berkata; Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami para sahabat sedangkan Umamah binti Abi al-’Ash -yaitu anak perempuan Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berada di atas bahunya. Apabila beliau ruku’ maka beliau meletakkannya dan apabila bangkit dari sujud maka beliau mengembalikannya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Tidak mengganggu jama’ah yang lain dengan bau yang tak sedap (rokok dsb)

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسَاجِدَنَا حَتَّى يَذْهَبَ رِيحُهَا يَعْنِي الثُّومَ
Dari Ibnu Umar -radhiyallahu’anhuma- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memakan sayuran seperti ini maka janganlah dia mendekat ke masjid-masjid kami sampai baunya telah hilang.” Maksudnya adalah bawang (HR. Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah)

Keutamaan Memakmurkan Masjid

Masjid ( مَسْجِد ) –dengan kasroh pada huruf jim- dalam bahasa Arab adalah isim makan (kata keterangan tempat) dari kata ( سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُودًا , artinya bersujud) yang menyelisihi timbangan aslinya yaitu ( مَسْجَد ) –dengan fathah pada huruf jim-. Maka arti kata ( مَسْجِد ) adalah tempat bersujud, dan bentuk jamaknya adalah ( مَسَاجِد ). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( … وَجُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا))
” … dan (seluruh permukaan) bumi ini telah dijadikan untukku sebagai tempat bersujud dan alat bersuci.” (Muttafaq ‘alaihi)

Adapun menurut istilah yang dimaksud masjid adalah suatu bangunan yang memiliki batas-batas tertentu yang didirikan untuk tujuan beribadah kepada Allah seperti shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya. Dan lebih spesifik lagi yang dimaksud masjid di sini adalah tempat didirikannya shalat berjama’ah, baik ditegakkan di dalamnya shalat jum’at maupun tidak. Allah berfirman,

” … , (tetapi) janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu) itu sedang kamu ber-i’tikaf dalam mesjid …” (QS. al-Baqarah: 187)

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. al-Jin:18)

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114)

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menuaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

Adapun kata “memakmurkan” adalah salah satu arti dari sebuah kata dalam bahasa Arab yaitu ( عَمَرَ – يَعْمُرُ -عِمَارَةً ) yang juga memiliki banyak arti lain di antaranya: menghuni (mendiami), menetapi, menyembah, mengabdi (berbakti), membangun (mendirikan), mengisi, memperbaiki, mencukupi, menghidupkan, menghormati dan memelihara.

Dengan demikian, yang dimaksud “memakmurkan masjid” adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta'ala, menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran dan sampah serta memberinya wewangian.

Bentuk-bentuk Memakmurkan Masjid dan Keutamaannya

Setiap muslim (khususnya kaum laki-laki) wajib memakmurkan masjid-masjid Allah dengan berbagai ibadah dan ketaatan, karena padanya ada keutamaan. Dan Allah menyifati orang-orang yang memakmurkan masjid-masjidNya sebagai orang-orang mukmin, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah:18)

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان، قال الله عز وجل { إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر . . الآية } )) رواه الترمذي وقال : حديث حسن
“Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya serta yang lainnya. Didhaifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ no. 509). Hadits ini dha’if, tetapi maknanya benar sesuai ayat di atas.

Semua bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya. Di antaranya adalah:

1. Membangun/mendirikan masjid

Membangun masjid memiliki keutamaan yang besar sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam,
(( مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ )) وفي رواية لمسلم: (( بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ )).
“Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di dalam syurga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal: “rumah di dalam syurga.”

Namun keutamaan tersebut hanya bisa dicapai dengan ikhlas semata-mata karena Allah dan mengharap wajah Allah sebagaimana teks hadits di atas. Meskipun masjid yang dibangun itu berukuran kecil, karena dalam hadits yang lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( مَنْ بَنَى ِللهِ مَسْجِداً وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ ))
“Barangsiapa membangun sebuah masjid karena/untuk Allah walau seukuran sarang (kandang) burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam syurga.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6128).

Adapun bila seseorang membangun masjid dengan tujuan ingin dipuji oleh manusia atau hanya untuk berbangga-banggaan semata maka ia tidak akan memperoleh keutamaan ini. Dan jika hal ini merajalela di tengah-tengah manusia maka itu salah satu pertanda dekatnya hari kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد ))
“Tidaklah kiamat akan tegak sehingga manusia berbangga-banggaan dalam (membangun) masjid-masjid.” (HR. Ahmad, Abu Daud Ibnu Majah dan yang lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 7421)

2. Membersihkannya dan memberinya wewangian

Hal itu telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah – رضي الله عنها -,
)) أمر رسول الله r ببناء المساجد في الدور وأن تنظف وتطيب )).
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di perkampungan-perkampungan, (lalu) dibersihkan dan diberi wewangian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah kehilangan seorang wanita atau pemuda berkulit hitam yang biasa menyapu sampah di masjid, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya tentangnya, dan dijawab bahwa ia telah meninggal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tidakkah kalian mengabarkan kepadaku?” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu'anhu) berkata, “Seolah-olah mereka meremehkan kedudukan wanita atau pemuda tersebut.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tunjukkan kepadaku kuburannya!” Mereka pun menunjukkannya lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatinya (yakni shalat atas jenazahnya) dan bersabda,

(( إن هذه القبور مملوءة ظلمة على أهلها وإن الله ينورها لهم بصلاتي عليهم ))
“Sesungguhnya kuburan ini penuh kegelapan bagi penghuninya, tetapi Allah meneranginya untuk mereka dengan doaku buat mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafal Muslim).

3. Dzikrullah, shalat dan tilawatul Qur’an

Perkara-perkara ini merupakan yang terpokok dari tujuan dibangunnya masjid, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang a’rabi (badui) yang kencing di salah satu sudut masjid, setelah orang tersebut selesai dari kencingnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
(( إن هذه المساجد لا تصلح لشيء من هذا البول ولا القذر إنما هي لذكر الله عز وجل والصلاة وقراءة القرآن ))
“Sesungguhya masjid-masjid ini tidak pantas digunakan untuk tempat kencing dan berak, tetapi hanyasanya ia (dibangun) untuk dzikrullah, shalat dan membaca al-Qur’an.”

Oleh karena itu masjid merupakan tempat yang paling dicintai oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( أحب البلاد إلى الله مساجدها و أبغض البلاد إلى الله أسواقها )).
“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( خير البقاع المساجد و شر البقاع الأسواق )).
“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.” (HR. At-Thabarani dan al-Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3271)

Adapun dzikrulllah maka ia merupakan amalan yang agung, dan sebaik-baik tempat dzikrullah adalah masjid. Ketika Allah mencela orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah di dalam masjid-masjidNya, Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang paling aniaya. Allah berfirman,

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (QS. al-Baqarah:114)

Maknanya bahwa orang-orang yang menghidupkan masjid-masjid dengan dzikrullah dan memerintahkan manusia kepadanya merupakan sebaik-baik amal dan jauh dari perbuatan aniaya.
Sedangkan shalat, khususnya shalat fardhu berjama’ah, di dalam masjid memiliki keutamaan yang besar, diantaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( من توضأ للصلاة، فأسبغ الوضوء، ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة، فصلاها مع الناس –أي: مع الجماعة في المسجد-؛ غفر الله له ذنوبه ))
“Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian berjalan menuju shalat fardhu, lalu dia shalat bersama manusia –yakni bersama jama’ah di masjid-, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim)

Apalagi shalat berjama’ah itu pahalanya berlipat ganda, dua puluh lima atau dua puluh tujuh kali, dibandingkan dengan shalat bersendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
(( صلاة الجماعة تفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة ))
“Shalat berjama’ah itu lebih baik 27 kali lipat daripada shalat bersendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar – رضي الله عنهما -)

Dalam riwayat ِal-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنهما,
(( بخمس وعشرين درجة ))
” … 25 kali lipat …”

Islam telah memotivasi setiap muslim untuk selalu mendatangi masjid-masjid, dan seseorang yang hatinya telah terikat dengan masjid  ketika dia keluar darinya hingga dia kembali ke masjid (yakni selalu menjaga waktu-waktu shalat berjama’ah di masjid) termasuk dari tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari tiada naungan selain naungan-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

(( سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله : …)) وفيه (( ورجل قلبه معلق بالمسجد إذا خرج منه حتى يعود إليه … ))
“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu: … -diantaranya-: “dan seorang yang terikat (hatinya) dengan masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke masjid …” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنهما)

Dan seorang yang pergi ke masjid pagi atau petang akan memperoleh pahala yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( من غدا إلى المسجد و راح أعد الله له نزلا من الجنة كلما غدا و راح )).
“Barangsiapa pergi pagi hari ke masjid, atau petang hari, akan Allah sediakan untuknya tempat di syurga setiap kali dia pergi (pagi atau petang hari).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنهما).

Dalam hadits lainnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا و يرفع به الدرجات ؟ إسباغ الوضوء على المكاره و كثرة الخطا إلى المساجد و انتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط فذلكم الرباط فذلكم الرباط )).
“Tidakkah kamu mau aku tunjukkan apa yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang berat, memperbanyak langkah ke masjid dan menanti shalat setelah shalat. Itulah penjagaan sesungguhnya, itulah penjagaan sesungguhnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنهما).

Masih banyak lagi keutamaan yang lain terkait dengan shalat berjama’ah di masjid.

Adapun membaca al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama di dalam masjid juga telah disebutkan keutamaannya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,
(( … وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده … ))
” … dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketentraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya … ” (HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنهما)

Dan semua halaqah ilmu yang bermanfaat termasuk dalam keutamaan tersebut. Bahkan orang-orang yang menuntut ilmu di majelis-majelis ilmu di dalam masjid, terutama di Masjid Nabawi, bagaikan mujahid di jalan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
)) من جاء مسجدي هذا لم يأته إلا لخير يتعلمه أو يعلمه فهو بمنزلة المجاهد في سبيل الله ومن جاء لغير ذلك فهو بمنزلة الرجل ينظر إلى متاع غيره ))
“Barangsiapa datang ke masjidku ini, tidak lain kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia bagaikan mujahid di jalan Allah, sedangkan yang datang untuk selain itu maka bagaikan orang yang cuma melihat-lihat harta orang lain.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam al-Misykat)

Dan secara umum setiap orang yang menuntut ilmu maka seperti mujahid di jalan Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( من خرج في طلب العلم فهو في سبيل الله حتى يرجع ))  رواه الترمذي وقال حديث حسن
“Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu maka dia di jalan Allah hingga pulang kembali.” (HR. At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya. Hadits ini hasan li ghairihi sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 88)


Sumber: www.abumushlih.com

   

Dasar Pendirian Masjid

Untuk mewujudkan SDM dengan integritas yang tinggi bukanlah pekerjaan yang mudah. Di samping faktor kemauan dari masing-masing individu, diperlukan pula faktor pendukung lainnya, termasuk akhlak dan mental. Agar pembinaan akhlak dan mental dapat berjaln efektif dan berkesinambungan, maka diperlukan sarana yang memadai untuk mendukungnya. Dalam kaitan inilah nampak begitu pentingnya keberadaan sebuah masjid pada lingkungan Perumahan Vilamas Indah Blok.A sebagai sarana pembentukan dan pembinaan akhlak dan mental warga Perumahan khususnya yang beragama Islam, dan sekaligus sebagi sarana ibadah umat Islam pada umumnya.

Di samping sebagai sarana peribadatan, keberadaan masjid di lingkungan Perumahan Vilamas Indah Blok.A diharapkan juga menjadi tempat untuk pengembangan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Oleh karena itu, masjid di lingkungan Perumahan selain sebagai tempat ibadah juga berfungsi sebagai majlis dzikir, majlis ilmu dan majlis ukhuwwah yang kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas keimanan dalam penghambaan kepada Allah SWT.

Walaupun keberadaan masjid dalam komplek perumahan Vilamas Indah Blok.A, sebagai sebuah “rumah kebajikan” tentunya diharapkan agar masjid tersebut dapat disemarakkan dengan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk memuliakan dan mengagungkan nama Allah. Oleh karena itu, masjid ini boleh didatangi kaum muslimin dari mana saja dan kapan saja, tidak hanya warga Perumahan Vilamas Indah  tetapi juga masyarakat sekitar Kaliabang dan masyarakat muslim pada umumnya.

Penulis-Abu raihan

umrah-6


umrah-4

masjid jami Baitul Mu'min - Perwira Bekasi utara

umrah-3

Umrah masjidil haram 2014 - masjid jami baitul mu'min

umrah-2




umrah-1



Contact Us

MASJID JAMI BAITUL MU'MIN

PERUMAHAN VILAMAS INDAH BLOK. A1
JL.KALIABANG TENGAH  PERWIRA-BEKASI UTARA
KOTA BEKASI - INDONESIA
TLP. (62-21) 888 78115
HP  . 0812 9930 712




Jadwal waktu sholat

jadwal-sholat

Buku Tamu

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh

Selamat datang di website Masjid Jami Baitul Mu'min

Semoga kehadiran website ini bisa menjadi sarana peningkatan keilmuan dan keimanan, memotivasi amal serta meningkatkan ukhuwah di antara warga Perumahan Vilamas Indah pada khususnya dan umat Islam pada umumnya

Kami tim redaksi sangat mengharapkan adanya saran dan masukan dari para pengunjung semuanya demi kemajuan, perbaikan dan peningkatan manfaat website ini.

Saran dan masukan  bisa anda sampaikan melalui buku tamu ini atau dikirim via email ke raihansaputro96@gmail.com

“Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizky yang baik dan amalan yang diterima”

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh

Membangun Masjid di Atas Kuburan

Ini adalah pertanyaan dari teman saya yang belum bisa saya jawab, yaitu tentang hukum membuat kuburan di dalam masjid. Bukan dengan niat mengkultuskan mayat orang yang telah mati tersebut, tapi agar lebih terjaga. Saya pernah membaca kalau kuburan nabi Muhammad itu terletak di dalam masjid dan yang saya tahu ulama tidak mempermasalahkannya. Dan saya pernah membaca juga kuburan Husain bin Ali yang di Mesir juga di dalam masjid. Namun ulama berbeda pendapat tentang hal itu.

Demikian yang mungkin bisa saya tanyakan, semoga ustadz bisa menjelaskan seputar masalah ini. Dan saya harap diberikan dalil dari nash dan buku rujukan yangyang berbahasa Indonesia dan turatsnya. Sekian jazakumullah khairol jaza.


jawaban

Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, baik berbentuk masjid, mushalla, atau pesarean dan sejenisnya adalah haram hukumnya. Baik kubur itu kubur nabi Muhammad SAW, atau kuburan nabi-nabi yang lainnya. Apalagi kuburan orang biasa, meski punya derajat yang tinggi di tengah kemasyhuran umat.
Keharaman membangun tempat ibadah di atas kuburan telah disepakati oleh para ulama, karena telah ditegaskan di dalam hadits-hadits berikut ini:

Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid, (Aisyah berkata),’Kalau bukan karena hal itu, niscaya kubur beliau akan dinampakkan, hanya saja beliau takut atau ditakutkan kuburnya akan dijadikan masjid. (HR Bukhari)
Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kubur sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu dari perbuatan itu. (HR Muslim)

Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR Bukhari)
Aisyah dan Ibnu Abbas ra berkata, “Tatkala Nabi menjelang wafat, beliau menutupkan kain ke wajahnya, lalu beliau buka lagi kain itu tatkala terasa menyesakkan nafas. Ketika beliau dalam keadaan itulah, Nabi SAW bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kuburan Nabi Muhammad SAW di dalam Masjid

Namun bagaimana dengan kenyataan bahwa di dalam masjid nabawi ada kuburan nabi Muhammad SAW? Bahkan bukan hanya ada kubur beliau SAW saja, juga ada kubur dua orang shahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab ra. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan bagaimana korelasinya dengan hadits-hadits di atas?

Untuk itu kita perlu mencermati dua hal, yaitu esensi dari hadits-hadits di atas serta sejarah kubur nabi SAW.
Hadits-hadits di atas secara tegas melarang membangun masjid di atas kuburan. Perbuatan ini disinyalir merupakan kebiasaan buruk umat terdahulu yang suka membangun tempat ibadah di kubur nabi dan orang shalih mereka.

Realitas kubur nabi Muhammad SAW yang kini ada di dalam masjid nabawi punya sejarah yang berbeda. Dahulu, kubur nabi Muhammad SAW itu tidak berada di dalam masjid. Sebelum nabi SAW wafat, masjid nabawi sudah tegak berdiri, berdampingan dengan rumah kediaman beliau. Selama lebih dari 10 tahun, umat Islam bersama Rasulullah SAW telah memanfaatkan masjid nabawi itu untuk beragam aktifitas,dari shalat sampai mengatur negara.

Ketika Rasulullah SAW wafat, beliau dikuburkan di dalam rumahnya sendiri, atau lebih tepatnya, di dalam kamar beliau. Dan begitu juga ketika khalifah Abu Bakar dan Umar wafat, keduanya juga dikuburkan di samping kuburan beliau SAW.
Sampai di sini, tidak ada masalah. Karena masjid dan kubur nabi SAW serta kedua shahabatnya tidak saling bercampur, masing-masing menempati lahan sendiri dan berdampingan.

Namun ketika zaman semakin berkembang, Masjid Nabawi sudah tidak mampu lagi menampung jamaah yang membeludak, maka tidak ada jalan lain kecuali memperluas masjid. Hingga pada akhirnya, terpaksa kubur nabi SAW harus tergusur untuk lahan masjid. Tentu saja rencana itu mendapat tentangan keras dari umat Islam. Bayangkan, memindahkan kubur nabi SAW, Abu Bakar dan Umar ra? Tentu sebuah penghinaan besar atas jasad mereka.

Maka akhirnya disepakati bahwa kubur itu tidak boleh dipindahkan, hanya karena alasan masjid harus diperluas. Maka jadilah seperti sekarang ini, kubur mereka ada di dalam masjid.
Untuk menghindarkan dari larangan shalat menghadap kuburan, maka dibangunlah dinding pemisah yang memisahkan kuburan dengan shaf jamaah yang shalat. Dan cara inilah yang telah disepakati oleh para ulama sepanjang sejarah hingga hari ini.

Adapun kasus kuburan imam Al-Husein di Kairo Mesir, juga kuburan Sayyidah Zaenab di Damaskus dan Kairo, bahkan kuburan Al-Imam Asy-Syafi''i rahimahumullah memang menjadi bahan khilaf di tengah para ulama.
Mengingat sekarang di atas kuburan mereka itu kini berdiri masjid. Dan posisi kuburannya memang tepat berada di dalamnya. Padahal sebelumnya tidak ada masjid, kecuali setelah ada kuburan. Itu berarti masjid-masjid itu memang dibangun setelah kuburannya ada.
Misalnya kuburan Al-Imam Asy-Syafi''i di Kairo yang pernah kami datangi, berada tepat di tengah masjid, sehingga di sekelilingnya ada ruang untuk berkeliling (bertawaf). Perbuatan ini sungguh merupakan bid''ah sesat yang dilakukan oleh orang bodoh. Seandainya Al-Imam Asy-Syafi''i bangun dari kematiannya dan menyaksikan orang-orang bertawaf di sekeliling kuburannya, pastilah beliau murka. Sebab ilmu-ilmu yang beliau wariskan kepada kita sangat bertentangan dengan prilaku orang-orang itu.

Seharusnya kalau mau meniru kasus kuburan nabi SAW, paling tidak kuburan itu diposisikan di luar masjid, lalu diberi dinding pemisah. Apalagi mengingat masjid itu tidak terlalu banyak menyedot jamaah sebagaimana Masjid Nabawi yang memang dianjurkan untuk diziarahi.
Adapun pendapat sebagian kalangan yang mengharuskan kuburan itu dibongkar dan dipindah ke tempat lain, memang bisa saja diterima. Namun tentu masalahnya tidak sederhana. Sebab terkait dengan kerelaan pihak kelurga, juga masalah biaya, ketersediaan lahan dan seterusnya.
Sementara merobohkan masjid yang sudah terlanjur berdiri juga bukan jalan keluar yang bijaksana. Bukankah seharusnya kita membangun dan memakmurkan masjid, mengapa justru kita malah harus merobohkan masjid, hanya lantaran?

Namun ke depan, seandainya ada tokoh yang dimuliakan wafat, jangan sampai ada lagi keinginan untuk membangun masjid dan tempat ibadah di atas kuburannya. Sebab hal itu memang dilarang dalam syariat Islam. Apalagi kita tidak diperbolehkan untuk meminta-minta sesuatu kepada kuburan. Jadi buat apa harus mendirikan masjid di atas kuburan?
Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Tirmidzi, hasan shahih).

Dirikanlah masjid di tempat-tempat manusia yang hidup membutuhkan sarana ibadah. Misalnya, di kantor-kantor, mal, pusat perbelanjaan, stasiun, airport, tepi jalan tol (bukan di tengah-tengahnya), kampus, sekolah dan lainnya. Mengingat di tempat-tempat itu banyak terkonsentrasi manusia dengan sangat padatnya, tapi fasilitas tempat shalat justru sangat minim.

Wallahu a''lam bishshawab, wasalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.








Sedekah yang paling Afdol

Dalam sebuah hadits terdapat penjelasan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai aktifitas bersedekah yang paling utama alias afdhol.

Tidak semua bentuk bersedekah bernilai afdhol. Bagi orang yang berusia muda dan sedang energik tentunya bersedekah memiliki nilai lebih tinggi di sisi Allah daripada bersedekahnya seorang yang telah lanjut usia, sakit-sakitan, dan sudah menjelang meninggal dunia.

Untuk itulah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberikan gambaran kepada ummatnya mengenai sedekah yang paling afdhol.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ حَرِيصٌ

تَأْمُلُ الْغِنَى وَتَخْشَى الْفَقْرَ وَلَا تُمْهِلْ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ

قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ

“Seseorang bertanya kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling afdhol?” Beliau menjawab: “Kau bersedekah ketika kau masih dalam keadaan sehat lagi loba, kau sangat ingin menjadi kaya, dan khawatir miskin. Jangan kau tunda hingga ruh sudah sampai di kerongkongan, kau baru berpesan :”Untuk si fulan sekian, dan untuk si fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR Bukhary)

Coba lihat betapa detilnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan ciri orang yang paling afdhol dalam bersedekah. Sekurangnya kita temukan ada empat kriteria: (1) Dalam keadaan sehat lagi loba alias berambisi mengejar keuntungan duniawi; (2) dalam keadaan sangat ingin menjadi kaya; (3) dalam keadaan sangat khawatir menjadi miskin dan (4) tidak dalam keadaan sudah menjelang meninggal dunia dan bersiap-siap membuat aneka wasiat soal harta yang bakal terpaksa ditinggalkannya.
Pertama, orang yang paling afdhol dalam bersedekah ialah orang yang dalam keadaan sehat lagi loba alias tamak alias berambisi sangat mengejar keuntungan duniawi.

Artinya, ia masih muda lagi masa depan hidupnya masih dihiasi aneka ambisi dan perencanaan untuk menjadi seorang yang sukses, mungkin dalam karirnya atau bisinisnya.

Dalam keadaan seperti ini biasanya seseorang akan merasakan kesulitan dan keengganan bersedekah karena segenap potensi harta yang ia miliki pastinya ingin ia pusatkan dan curahkan untuk modal menyukseskan berbagai perencanaan dan proyeknya.

Dengan dalih masih dalam tahap investasi, maka ia akan selalu menunda dan menunda niat bersedekahnya dari sebagian harta yang ia miliki. Karena setiap ia memiliki kelebihan harta sedikit saja, ia akan segera menyalurkannya ke pos investasinya.

Setiap uang yang ia miliki segera ia tanam ke dalam bisnisnya dan ia katakan ke dalam dirinya bahwa jika ia bersedekah dalam tahap tersebut maka sedekahnya akan terlalu sedikit, lebih baik ditunda bersedekah ketika nanti sudah sukses sehingga bisa bersedekah dalam jumlah ”signifikan” alias berjumlah banyak. Akhirnya ia tidak kunjung pernah mengeluarkan sedekah selama masih dalam masa investasi tersebut.

Kedua, bersedekah ketika dalam keadaan sedang sangat ingin menjadi kaya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam seolah ingin menggambarkan bahwa orang yang dalam keadaan tidak ingin menjadi kaya berarti bersedekahnya kurang bernilai dibandingkan orang yang dalam keadaan berambisi menjadi kaya. Sebab bila seorang yang sedang berambisi menjadi kaya bersedekah berarti ia bukanlah tipe orang yang hanya ingin menikmati kekayaan untuk dirinya sendiri.

Ia sejak masih bercita-cita menjadi kaya sudah mengembangkan sifat dan karakter dermawan. Hal ini menunjukkan bahwa jika Allah izinkan dirinya benar-benar menjadi orang kaya, maka dalam kekayaan itu dia bakal selalu sadar ada hak kaum yang kurang bernasib baik yang perlu diperhatikan.

Sekaligus kebiasaan bersedekah yang dikembangkan sejak seseorang baru pada tahap awal merintis bisnisnya, maka hal itu mengindikasikan bahwa si pelaku bisnis itu sadar sekali bahwa rezeki yang ia peroleh seluruhnya berasal dari Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah Ar-Razzaq.

Hal ini sangat berbeda dengan orang kaya dari kaum kafir seperti Qarun, misalnya. Qarun adalah tokoh kaya di zaman dahulu yang di dalam meraih keberhasilan bisnisnya menyangka bahwa kekayaan yang ia peroleh merupakan buah dari kepiawaiannya dalam berbisnis semata.

Ia tidak pernah mengkaitkan kesuksesan dirinya dengan Yang Maha Pemberi Rezeki, Allah swt.

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِ

“Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku".(QS Al-Qshshash ayat 78)

Ketiga, sedekah menjadi afdhol bila si pemberi sedekah berada dalam keadaan khawatir menjadi miskin. Walaupun ia dalam keadaan khawatir menjadi miskin, namun hal ini tidak mempengaruhi dirinya. Ia tetap berkeyakinan bahwa bersedekah dalam keadaan seperti itu merupakan bukti ke-tawakkal-annya kepada Allah.

Ia sadar bahwa jika Allah kehendaki, maka mungkin sekali dirinya menjadi kaya atau menjadi miskin. Itu terserah Allah. Yang pasti keadaan apapun yang dialaminya tidak mempengaruhi sedikitpun kebiasaannya bersedekah.

Ia sudah menjadikan bersedekah sebagai salah satu karakter penting di dalam keseluruhan sifat dirinya. Persis gambarannya seperti orang bertaqwa di dalam Al-Qur’an:

أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

”... yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.” (QS Ali Imran ayat 133-134)
Keempat, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat mewanti-wanti agar jangan sampai seseorang baru berfikir untuk bersedekah ketika ajal sudah menjelang. Sehingga digambarkan oleh beliau bahwa orang itu kemudian baru menyuruh seorang pencatat menginventarisasi siapa-siapa saja fihak yang berhak menerima harta miliknya yang hendak disedekahkan alias diwasiatkan.

Ini bukanlah bentuk bersedekah yang afdhol. Sebab pada hakikatnya, seorang yang bersedekah ketika ajal sudah menjelang, berarti ia melakukannya dalam keadaan sudah dipaksa oleh keadaan dirinya yang sudah tidak punya pilihan lain.

Bila seseorang bersedekah dalam keadaan ia bebas memilih antara mengeluarkan sedekah atau tidak, berarti ia lebih bermakna daripada seseorang yang bersedekah ketika tidak ada pilihan lainnya kecuali harus bersedekah.

Itulah sebabnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menghargai orang yang masih muda lagi sehat bersedekah daripada orang yang sudah tua dan menjelang ajal baru berfikir untuk bersedekah.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa bersedekah yang paling afdhol. Terimalah, ya Allah, segenap infaq dan sedekah kami di jalanMu. Amin.-

Mempersiapkan Untuk Pulang Ke Akhirat

Oleh : KH. Tadjuddin Hasan




Rasulullah Saw bersabda :



لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْئَلَ عَنْ اَرْبَعٍ

Kata Nabi tidak bisa bergerak dua telapak kaki seseorang hamba pada hari qiamat nanti sehingga ditanya terlebih dahulu empat persoalan, pertama tentang umur yang diberikan oleh Allah SWT hidup di dunia digunakan untuk apa, kedua tentang masa muda selama hidup di dunia apa saja yang dikerjakan / apa yang dilakukan, ketiga tentang harta mendapat dua pertanyaan dari mana kau dapat harta ini dan dikemanakan harta ini diinfaqkan kemana / disalurkan kemana, akan ditanya oleh Allah SWT, dan keempat tentang ilmu yang diberikan oleh Allah SWT diamalkan apa tidak ilmunya.

Empat pertanyaan ini cukup berat, mampukah kita menjawabnya dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah SWT, tentang umur yang diberikan oleh Allah, tentang masa muda, harta dan ilmu, bagi orang yang beriman dan bagi orang yang bertaqwa kepada Allah tidak khawatir dan tidak takut. Berdasarkan firman Allah :

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُوْا عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ اَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَ اَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِى كُنْتُمْ تُوْ عَدُوْنَ

Maksudnya : “Orang yang beriman kepada Allah orang yang istiqomah/orang yang lurus orang yang jujur orang yang amanah dan orang yang menyampaikan yang benar itu benar yang salah itu salah orang bertaqwa kepada Allah orang yang mengamalkan ilmunya mereka tidak takut dan tidak prihatin dan berilah kabar gembira kepada mereka itu bahwa surga telah dipersiapkan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT kepada setiap hamba-hamba yang beriman hamba-hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT”. (QS. 41 Fushilat : 30)

Hidup di dunia ini temporer (sementara) cepat atau lambat kita akan tinggalkan dunia yang fana ini, Allah SWT selalu memperingatkan kepada kita hambanya yang beriman dan bertaqwa. Di dalam surah al-Hasyr ayat 18 Allah selalu mengingatkan kepada kita semua sebagai hambanya yang beriman :

يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا اتَّقُوْاللهَ وَلْتَنْطُرْ نَفْسٌُ مَاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُواللهَ اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Maksudnya : “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan setiap diri hendaknya memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk pulang esok (hari akhir), kita esok akan menghadap Allah SWT, kita milik Allah dan akan kembali kehadirat Allah SWT, yang kita tangisi sekarang ini, sudah siapkah perbekalan kita selama hidup di dunia diperintahkan oleh Allah untuk ibadah untuk beriman untuk bertaqwa untuk mempunyai ilmu untuk berakhlaq karimah untuk beramal sholeh. Sudah siapkah itu semua sebagai bekal kita pulang nanti. Ini yang harus kita tangisi, sementara kita sebagai umat manusia / hamba Allah lupa akan kehidupan akhirat seolah olah ia akan hidup bertahun tahun, berpuluh puluh tahun, beratus ratus tahun. Ingat bahwa kematian itu akan datang dengan tiba-tiba kalau sudah ajal datang ia tidak melihat sudah tua apa masih muda, remaja, anak-anak, balita, bayi. Kalau Allah sudah kehendaki lalu ia perintahkan malaikat Izrail untuk menjemput maka semua itu akan meninggalkan dunia yang fana ini. Kita yang masih hidup diperingatkan oleh Allah SWT setiap diri hendaknya memperhatikan apa yang telah ia perbuat selama hidup di dunia untuk persiapan pulang ke akhirat nanti. Menyesal apabila kita pulang ke akhirat nanti menghadap Allah SWT sementara umur yang diberikan Allah SWT kita sia-siakan. Kita tidak mengerti arti hidup, tujuan hidup, hakikat hidup, habis umur untuk begitu saja tidak dimanfaatkan dan digunakan untuk ibadah, maka akan menyesal dikemudian hari”.

Oleh karena itu dengan peringatan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman, mari kita syukuri umur yang diberikan Allah SWT, kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk ibadah kepada Allah SWT.

Kita harus memahami dalam hidup ini, harus mengerti hakekat dan tujuan hidup, jadilah manusia yang bermanfaat di dunia ini. “Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusia lain” Dan kita harus memahami tujuan hidup tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT. Sesuai dengan firman-Nya :
وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. 51 Adzariat : 56).

Kita syukuri umur yang diberikan oleh Allah SWT, kita isi dengan kebaikan dengan akhlaq yang baik, dengan iman taqwa dan harta yang diberikan oleh Allah kita infaqkan maka harta yang kita infaqkan itulah punya kita, sementara harta yang masih ada merupakan titipan. Ilmu yang diberikan kita amalkan dengan sebaik-baiknya kata Ibnu Ruslan dalam kitab zubad “Orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan mereka akan disiksa sebelum disiksa penyembah berhala”.

Dengan khutbah yang singkat ini mari kita merenung sudah sejauh mana kita mempersiapkan untuk pulang ke akhirat kembali menghadap Allah SWT dan Allah mengingatkan agar kita mati dalam keadaan Islam (khusnul khatimah) mudah-mudahan hidup kita dalam lindungan dan ridha Allah SWT Amin ya rabbal ‘alamiin

Setengah sholeh setengah tidak

Jika semua orang tua muslim di dunia ini ditanya, apa harapannya terhadap anak-anak mereka tentu jawabannya dengan serentak "ingin punya anak sholeeeeeeeeehhhhhhhh........" klise memang, tetapi seharusnya demikian. Masalahnya adalah setiap kepala memiliki batasan dan definisi yang berbeda-beda tentang bagaimana profil anak sholeh.

Saat liburan ramadhan lalu, ada cerita lucu aku geli dibuatnya. Seorang anak perempuan muridku bercerita padaku, kalau ia benar-benar bingung dengan sikap mamanya "gimana tidak, coba ibu bayangkan..., di pesantren ini aku kan diajarin untuk menutup aurat dari ujung rambut sampai ujung kaki, karena semua jengkal tubuh wanita itu kan aurat sehingga saat kembali pulang ke rumah orang tuaku, aku selalu mengenakan jilbab dan kaus kaki jika keluar rumah. Suatu hari ibuku menyuruhku mengambil cepat-cepat jemuran baju di luar rumah karena hari akan hujan, tentu saja aku pun sibuk berpakaian lengkap mengenakan kerudung, baju panjang dan kaus kaki sehingga agak lama sedikit. Mamaku tidak sabar melihatku dan berteriak.......aduh ni anak apa-apaan sih pake kerudung dan kaus kaki segala kan cuma ambil jemuran di halaman belakang saja....cepaaaaaaaatttttt.....mau hujan..Akhirnya karena aku lupa menyimpan kaus kakiku jadi agak lama untuk melakukan perintah mamaku, jemuran mamaku sedikit terkena hujan, meledak deh marah mamaku...sampai keluar kata-kata, aduh ini anak dimasukin ke pesantren itu kan agar nurut sama orang tua, jadi anak sholeh,,kenapa ya Allah anakku jadi begini, disuruh ambil jemuran aja lama susah sekali, pake acara cari-cari kaus kaki segala, masa ke belakang rumah aja musti pake kerudung dan kaus kaki???diajarin apa sama ustdz di pesantren kamu koq jadi begini, terlalu fanatik. Mama kan masukin kamu ke pesantren agar kamu jadi anak sholeh, nurut sama perintah orang tua dan tidak membangkang jika dinasihati.

Anak itu mengatakan sama mamanya kalau berjilbab itu merupakan salah satu ciri anak sholeh, ajaran Rasulullah yang harus ditaati eh..mamanya bilang iya..taat sih taat tapi jangan terlalu taat begini...., sholeh sih sholeh tapi jangan terlalu sholeh begini, anak itu pun bingung dibuatnya.
Aku pun geli mendengarnya, aku yakin bukan hanya mama anak ini saja yang berpikiran serupa, banyak orang tua yang memiliki sifat seperti ini, di satu sisi mereka berharap anak-anak mereka menjadi anak yang baik, sholeh dan menjadi hamba Allah tetapi di sisi lain mereka pun tidak ingin anak-anak mereka terlalu taat dan seolah-olah bersikap beda dengan kebiasaan masyarakat, berkarakter tidak seperti kebanyakan orang, bingung kan...???

Sikap inilah yang membuat anak menjadi bingung, plin plan. Menjadi muslim yang hanya setengah-setengah saja, menjadi sholeh yang hanya setengah-setengah saja, padahal Allah sudah mengajak kita untuk memasuki Islam itu secara kaffah (menyeluruh) tidak setengah-setengah. Mengambil sebagian ayat Allah yang ia sukai dan menjauhi ayat Allah yang tidak disukai. Sikap inilah yang harus kita tepis jauh-jauh. Komitmen dan konsekuen merupakan sikap yang wajib dimiliki siapa pun yang mengaku dirinya mukmin.


Wallahua'alam bishowab

Penulis : Rina Mutaqinah Taufik

Contohlah setan

Bismillah,

Judul artikel ini mungkin membingungkan dan ‘terkesan’ menyesatkan. Tapi ada baiknya dibaca dahulu hingga selesai, baru berkomentar.

Setan diciptakan ALLAH SWT sebagai musuh yg mesti diwaspadai oleh manusia. Namun bukan berarti tidak ada sifat ‘baik’ pada diri setan, ataupun hikmah yg bisa dipelajari oleh manusia. Rasululloh SAW sendiri pernah berdialog dg Iblis (artikel 1, artikel 2).

Lantas, apa saja sifat2 ‘baik’ setan yg patut ‘ditiru’ oleh manusia? Saya dapatkan dari seorang teman, berikut ini sifat2 setan yg mesti dicontoh manusia:

1. Pantang menyerah, setan akan selalu menggoda imam manusia sebelum tujuannya tercapai.

2. Selalu berusaha, setan selalu mempunyai usaha yang kreatif dan inovatif untuk menggoda manusia agar terjerumus di dalam dunianya.

3. Konsisten, setan tidak pernah mengeluh walaupun dia gagal untuk menggoda manusia, tapi dia tetap pantang menyerah.

4. Solider, setan tdk pernah saling menyerang satu sama lain, akan tetapi mereka selalu berkerja sama dalam mencapai tujuan yaitu menggoda manusia.

5. Jenius, setan memang pintar untuk menggoda manusia. Ia dapat menciptakan ide-ide kreatif.

6. Tanpa pamrih, setan melakukan pekerjaan menggoda manusia 24 jam nonstop dan tidak meminta imbalan sedikitpun tidak seperti kita.

7. Suka berteman, setan selalu ingin berteman dan dapat menjaga pertemanan (Setia, solider) agar temannya di neraka kelak akan banyak.

Tentu saja, sifat2 setan tersebut mesti kita terapkan dalam hal kebajikan, bukan seperti yg setan lakukan.

Semoga berguna.